Providing Nafkaḥ Muṭ‘ah for Wives in Lawsuits of Divorce According to Islamic Law and Indonesian Legislation

Authors

  • Titin Triana Pascasarjana UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
  • Suhar Suhar UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
  • Ishaq Ishaq UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

DOI:

https://doi.org/10.56436/jocis.v2i1.197

Keywords:

Marriage, Family, Divorce , Mut‘ah, Compilation of Islamic Law, Republic of Indonesia Law

Abstract

This article discusses the phenomenon of responsibility in granting mut‘ah to a divorce suit filed by the wife, both from the perspective of Islamic law and the perspective of legislation in Indonesia. The main problem studied is how Islamic law and legislation in Indonesia regulate the granting of mut‘ah to a divorce suit filed by the wife? This article comes from qualitative literature research which observes the phenomenon of court decisions regarding responsibility for granting mut‘ah. The research found that based on the provisions of Chapter 149 of the Compilation of Islamic Law (KHI), in divorce cases that are contested in trials at the Religious Courts, the judge does not punish husbands who commit mut‘ah and undergo iddah. The obligation to provide mut‘ah and iddah is only given by husbands who divorce their wives as mandated in article 39 of PP No.9 of 1975 jo. Chapter 149 letter (b) Compilation of Islamic Law (KHI).

Artikel ini membahas tentang fenomena tanggung jawab dalam pemberian mut‘ah kepada gugatan cerai yang diajukan oleh pihak istri, baik dari segi Hukum Islam dan maupun perspektif perundang-undangan di Indonesia. Permasalahan utama yang dikaji adalah bagaimana Hukum Islam dan Perundang-undangan di Indonesia mengatur tentang pemberian mut‘ah kepada gugatan cerai yang diajukan oleh pihak istri? Artikel ini berasal dari penelitian kualitatif literatur yang mengamati fenomena putusan pengadilan terkait tanggungjawab pemberian mut‘ah. Penelitian menemukan bahwa Berdasarkan ketentuan Bab 149 Kompilasi Hukum Islam (KHI),  dalam perkara perceraian yang digugat dalam persidangan di Pengadilan Agama, Hakim tidak menghukum suami yang melakukan mut‘ah dan menjalani iddah. Kewajiban memberikan mut‘ah dan iddah hanya diberikan oleh suami yang menceraikan istrinya sebagaimana diamanatkan dalam pasal 39 PP No.9 Tahun 1975 jo. Bab 149 huruf (b) Kompilasi Hukum Islam (KHI).

Downloads

Download data is not yet available.

References

Azzam, Abdul Aziz Muhammad dan Abdul Wahhab Sayyed Hawwas. Fiqh Munakahat Khitbah, Nikah dan Talak. Jakarta : Amzah, 2011.

Al-Alim, Yusuf Hamid. Al-Maqashid, al-Ammah li al-Syari’at al-Islamiyah. Riyadh: Al-Dar al-Alamiyah li al-Kitib al-Islami, 1994.

Al-Baihaqi, Ahmad bin al-Husain bin ‘Ali bin Musa Abu Bakar. Sunan al-Baihaqi al-Kubra. Makkah al-Mukarramah: Maktabah Dar al-Baz, 1994.

Al-Daruqutjni, Ali bin ‘Umar Abu al-Hasan. Sunan alDaruquthnly. Beirut : Dar al-Ma’rifah, 1996, Juz 4.

Al-Kasany, Abu Bakar bin Mas’ud. Al-Badai” al-Shana”I”. Beirut: Daral-Kutub alllmiyah, 2010, Juz 4.

Al-Nasa’I, Ahmad bin Syu’aib Abu ‘Abd al-Rahman. Sunan al-Nasa’iy-al-Mujtabi. Halab: Maktab al-Mathbu’at al-Islamiyyah, 1986.

Al-Syaukani, Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad. Nail al-Authar min Ahadits Said al-AkhbarSyarh Muntaqa al-Akhbar. t.tp : Idarah al-Thaba’ah alMinbarah, t.th.

Depertemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : PT.Penerbitan dan Pencetakan Balai Pustaka, 2001.

Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Depag RI, 1965.

Darliana, Cerai Gugat Perspektif Perundang-undangan di Indonesia. Makassar: Pascasarjana UIN Alauddin, 2014.

Depertemen Agama RI, Ensiklopedia Hukum Islam. Jakarta: PT.Ikhtiyar Qolbi, 2008.

Hurloch E.B, Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga, 1999.

Heniyatun, Puji Sulistyaningsih, Siti Anisah. “Pemberian Mut’ah dan Nafkah Iddah dalam Perkara Cerai Gugat,” Profetika: Jurnal Studi Islam 21, No. 1 (2020), https://journals.ums.ac.id/index.php/profetika/chapter/view/11647.

Ibnu Qusamah, Muwaffiq al-Din. al-Mugny. Kuwait: Dar ‘Alim al-Kutub, 1997, juz 11.

JDIH BPK, Undang-undang (UU) Nomor 50 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. https://peraturan.bpk.go.id/Details/38795/uu-no-50-tahun-2009.

JDIH BPK, “Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan,” https://peraturan.bpk.go.id/Details/47406/uu-no-1-tahun-1974.

JDIH MA, “Surat Edaran Mahkamah Agung No. 03 Tahun 2018 tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2018 Sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas Bagi Pengadilan,” https://jdih.mahkamahagung.go.id/legal-product/sema-nomor-3-tahun-2018/detail.

Kementerian Agama RI Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia (Jakarta: Kemenag RI, 2018), 64.

Mathlub, Abdul Majid Muhmud. Panduan Hukum Keluarga Sakinah. Solo: Era intermedia, 2005.

Mughniyah, Muhammad Jawad. Fiqih Lima Mazhab, Trans. Masykur A.B, Alif Muhammad and Idris Al-Kaff. Jakarta: Penerbit Lentera, 2007.

Nuruddin, Amiur dan Azhari Akmal Tarigan. Hukum Perdata Islam di Indonesia. Jakarta: Kencana, 2004.

Perdana, Maliano. “Studi Analisis Istinbath Hukum Imam Malik Tentang Mut’ah Bagi Wanita Yang Telah Ditalak.” Tesis, Universitas Walisongo, Semarang, 2015.

Soemiyati, Hukum Perkawinan Islam Dan Undang-Undang Perkawinan. Yogyakarta: Liberty, 2007.

Downloads

Submitted

2023-05-14

Accepted

2023-10-13

Published

2023-11-18

How to Cite

Triana, T., Suhar, S., & Ishaq, I. (2023). Providing Nafkaḥ Muṭ‘ah for Wives in Lawsuits of Divorce According to Islamic Law and Indonesian Legislation. Journal of Comprehensive Islamic Studies, 2(1), 149–166. https://doi.org/10.56436/jocis.v2i1.197